35. AL GHAFUUR (Dzat Yang Maha Pengampun) Allah Ta'ala akan mengampuni dosa yang dilakukan secara berulang-ulang walau berapapun jumlahnya (tidak terbatas). Akan tetapi dengan syarat tidak ada niat untuk melakukannya (tanpa sengaja). Dengan kata lain Al Ghafuur ini berlaku bagi orang-orang yang sudah bertaubat dengan nashuha, tetapi tanpa sengaja terlakukan dosa lagi. Atau bagi orang-orang yang telah bersungguh-sungguh mengendalikan hawa nafsu, tetapi masih tetap kalah sehingga terlakukan dosa, padahal didalam hatinya tidak ada niat untuk melakukannya. Oleh sebab itu bagi orang-orang yang dengan sengaja melakukan dosa, maka Al Ghafuur-Nya Allah Ta'ala tidak berlaku untuk dirinya. Setiap taubat harus nashuha supaya ada kendali agar tidak melakukannya lagi. Yang dinamakan nashuha adalah : “Menyesal, memohon ampun, berjanji tidak melakukan lagi dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menepati janji”. Dan apabila telah berusaha dengan sungguh-sungguh tetapi masih terlakukan dosa lagi, maka Al Ghafuur-Nya Allah Ta'ala ini berlaku kepada dirinya. Karena selama manusia masih hidup, pasti dia akan berperang melawan hawa nafsu. Terkadang menang dan terkadang kalah. Yang penting kita sudah bersungguh-sungguh untuk mengendalikannya, dan apabila kalah memohon ampun kepada Allah Ta'ala dan berjanji tidak melakukannya lagi. Untuk mengendalikan hawa nafsu memang sungguh berat jika tanpa pertolongan Allah Ta'ala. Akan tetapi pertolongan Allah Ta'ala sebanding dengan niat dan usaha yang sungguh-sungguh. Semakin kuat niat dan kesungguhan seseorang untuk mengendalikan hawa nafsunya, maka semakin besar pula pertolongan Allah Ta'ala kepadanya. Begitupun juga sebaliknya, semakin lemah niat dan kesungguhan seseorang untuk mengendalikan hawa nafsunya, maka semakin lemah pula pertolongan Allah Ta'ala kepadanya, sehingga selamanya tidak akan bisa mengendalikan hawa nafsu. Sebetulnya yang paling berbahaya adalah melakukan dosa tetapi tidak tahu (tidak sadar). Sebagai contohnya sombong tidak terasa. Padahal kesombongan adalah satu dosa yang tidak bisa memasukkan kita kedalam syurga. Hal ini disebabkan sudah terbiasa sombong, sehingga menjadi tidak terasa. Didalam hadits Qudsi Allah Ta'ala berfirman : “Keagungan adalah sarung-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku. Barang siapa yang merampas dari-Ku, maka akan Aku benamkan didalam neraka”. Rasulullah SAW juga bersabda : “Kesombongan sebesar biji sawi tidak bisa mencium baunya syurga”. Jika mencium baunya saja tidak bisa apalagi masuk kedalamnya? Yang dinamakan sombong adalah tidak mau menerima kebenaran dan memandang rendah orang lain. Bisa dari segi ilmu, memandang rendah orang-orang bodoh. Bisa dari segi harta memandang rendah orang-orang miskin. Bisa dari segi tenaga memandang rendah orang-orang yang lemah. Oleh sebab itu apabila kita punya harta, maka yang perlu kita lihat adalah sikap kita terhadap orang-orang miskin. Apabila ada perasaan merendahkan berarti kita sombong. Apabila kita punya ilmu, maka yang perlu kita lihat adalah sikap kita terhadap orang-orang bodoh. Jika menganggap rendah mereka, berarti kita sombong. Begitu juga dengan tenaga, yang perlu kita lihat adalah orang-orang lemah. Jika kita merendahkan mereka, berarti kita sombong. Dari ketiga hal diatas, semua manusia pasti memilikinya atau salah satu dari ketiganya. Oleh sebab itu kesombongan tidak menimpa orang-orang kaya saja, atau orang-orang berilmu saja, tetapi menimpa seluruh manusia. Sebetulnya kesombongan ini berawal dari hawa nafsu yaitu keberadaannya ingin diakui oleh orang lain. Untuk itu hendaknya kita tahu diri, bahwasannya kita ini adalah makhluq yang lemah, bodoh, hina, faqir, tidak punya daya upaya dan kekuatan sedikitpun tanpa pertolongan Allah Ta'ala. Sehingga tidak pantas diakui oleh orang lain, karena apapun yang kita miliki atau bisa kita lakukan semata-mata karena izin dan pertolongan Allah Ta'ala. Segala sesuatu yang Allah berikan kadang kala tidak sesuai menurut hawa nafsu kita, sehingga hal ini membuat kita kecewa dan buruk sangka kepada Allah. Padahal apa yang Allah berikan pasti yang terbaik. Sebagai contohnya kita menginginkan untuk segera mendapat pekerjaan. Kita sudah berupaya dengan maksimal tapi hasilnya masih nihil. Hal ini terkadang membuat kita kecewa. Padahal itu adalah yang terbaik buat kita, karena mungkin kita belum siap atau akan membuat kita semakin jauh dari Allah. Mungkin juga apabila diberi kita belum bisa melihat bahwa itu adalah pemberian Allah atau mungkin akan membuat kita menjadi sombong. Hal-hal seperti inilah yang membuat kita tidak terima dengan taqdir Allah sehingga kita berbuat dosa. Jadi dalam hidup ini kita seringkali tidak terima dengan taqdir Allah dan seringkali kita kecewa dengan pemberian-pemberian Allah dikarenakan tidak sesuai dengan hawa nafsu kita. Inilah dosa yang seringkali kita lakukan. Padahal didalam salah satu hadits qudsi Allah berfirman : “Barang siapa yang tidak terima dengan taqdir Ku, maka minggatlah dari bumiKu dan carilah Tuhan selain Aku”. Untuk itu apabila kita masih tergolong orang yang demikian, maka bertaubatlah kepada Allah serta memperbaiki diri. Karena Dia adalah Al Ghofur. Akan tetapi kesempatan-kesempatan seperti ini jarang sekali kita manfaatkan, sehingga kita tidak mau bertaubat kepada Allah. Salah satu kontrol apabila dalam hidup ini sering kali tidak terima dan kecewa dengan ketentuan-ketentuan serta pemberian-pemberian Allah, maka kita masih mengikuti hawa nafsu dan tergolong sebagai orang yang fasik. Akan tetapi apabila dalam hidup ini kita selalu terima dengan ketentuan-ketentuan Allah, maka kita termasuk orang yang sudah bisa mengendalikan nafsu. Orang-orang yang dipanggil untuk masuk syurga adalah orang-orang yang jiwanya tenang. Dan orang seperti ini adalah yang selalu ikhlas atau terima atas segala ketentuan dan pemberian Allah. Akan tetapi bagi orang-orang yang sering kali tidak terima dan kecewa dengan pemberian-pemberian dan ketentuan Allah, maka jiwanya pasti belum bisa tenang. Manusia memang diberi nafsu yang selalu mengajak kepada kesesatan, sehingga dalam hidup ini terkadang kalah dan terkadang menang. Oleh sebab itu Allah telah menyiapkan DiriNya untuk mengampuni dosa hamba-hambaNya sejauh sang hamba sudah bersungguh-sungguh untuk memperbaiki dirinya. Karena Allah akan mengampuni dosa yang berulang-ulang dengan syarat tidak sengaja terlakukan. Maksudnya pada saat bertaubat kita harus berjanji untuk tidak mengulangi dosa lagi. Akan tetapi jika dalam kehidupan tidak sengaja terlakukan (tersalah) maka kita harus memohon ampun lagi. Karena bagi orang-orang yang sudah terbiasa melakukan suatu dosa untuk meninggalkannya sekaligus sungguh susah. oleh sebab itu Allah menyiapkan diriNya dengan Al Ghofuur Akan tetapi bagi orang-orang yang sudah tahu dosa dan dengan sengaja melakukannya maka tidak akan diampuni. Apabila kita tahu salah (dosa) tetapi tidak ada keinginan untuk mencegahnya, ini namanya main-main. Oleh sebab itu kita harus bersungguh-sungguh dalam bertaubat dan bersungguh-sungguh pula dalam mempertahankan taubat (memperbaiki diri). Karena yang berhak atas GhofurNya Allah adalah orang-orang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh setelah itu bersungguh-sungguh pula dalam memperbaiki diri. Kalau setelah minta ampun tetapi dilakukan lagi dengan sengaja maka selamanya tidak berhak memperoleh pengampunan Allah. Oleh sebab setiap minta ampun harus berjanji untuk tidak melakukan lagi sehingga ada rem. Dan janji ini harus berusaha kita tepati dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang dikunci mati hati. Yaitu orang-orang yang bertaubat tetapi diulang-ulang terus dengan sengaja. Bagi orang-orang yang sudah terbiasa melakukan satu dosa, untuk menghilangkannya sekaligus biasanya sungguh berat, karena syetan selalu berupaya agar ia melakukan lagi. Sehingga terkadang terpancing untuk melakukan lagi. Akan tetapi kalau taubatnya sungguh-sungguh kadarnya akan mengekecil sehingga lambat laun tidak akan melakukan lagi. Oleh sebab itu hendaknya kita lihat diri kita masing-masing. Apakah setelah bertaubat kadarnya berkurang? kalau belum berarti taubat kita belum sungguh-sungguh (main-main). Sebagai contohnya kita menipu orang lain lalu minta maaf, tetapi besok menipu lagi, lalu meminta maaf lagi, besoknya menipu lagi dan meminta maaf lagi tanpa ada keinginan untuk berhenti dari menipu. Tentunya kita akan jengkel dengan orang seperti ini. Hal ini sama dengan kita bertaubat tetapi tidak ada keinginan dan kesungguhan untuk memperbaiki diri. Berarti mempermainkan Allah. Padahal orang yang bertaubat seharusnya menjadi lebih baik. Taubat harus sungguh-sungguh, karena Allah ingin melihat sejauh mana kesungguhan kita dalam bertaubat. Hal ini dicontohkan dalam surat At Taubah (9) : 118 118. Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak dosa-dosa yang kita lakukan secara berulang-ulang, yang membuat kita berputus asa dalam bertaubat? atau kita sering kali menunda-nunda untuk bertaubat sehingga membuat hati kita menjadi keras? kemudian dosa tersebut menjadikan kita terbiasa melakukannya, sehingga apabila melakukan dosa tersebut kita sudah tidak lagi memiliki rasa penyesalan. B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang kami lakukan karena kami tidak mampu melawan hawa nafsu kami, sehingga kami berdosa dan berulang-ulang dengan dosa yang sama. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa Allah Ta'ala akan mengampuni dosa yang dilakukan hambaNya walaupun secara berulang-ulang, yang penting hambaNya tidak sengaja melakukannya (tidak mempunyai niat untuk melakukan dosa) setelah itu mau bertaubat kepada-Nya dengan taubat yang nashuha. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa sangat takut apabila dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah Ta'ala, karena dosanya itu terlakukan lagi. Oleh sebab itu dia akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindari dosa. Dan kalaupun terlakukan tanpa adanya niat (tersalah) maka dia segera memohon ampun dan berusaha memperbaiki diri. Pengampunan Allah Ta'ala tidak ada batasnya yang penting persyaratannya terpenuhi. Yaitu : “Apabila berdosa bukan karena sengaja tetapi karena tersalah (tidak sengaja), setelah itu segera memohon ampun, berjanji tidak melakukan lagi, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menepati janji serta memperbaiki diri (mengganti perbuatan dosa dengan kebaikan). Akan tetapi apabila melakukan dosa dengan sengaja dan tidak mau memohon ampun, maka Allah Ta’ala tidak akan mengampuni. Ibaratnya ada orang yang menghina kita dengan sengaja, setelah itu dia meminta maaf. Akan tetapi dia menghina kita lagi dengan sengaja, lalu dia meminta maaf lagi. Setelah itu dia menghina lagi dengan sengaja dan meminta maaf lagi. Dia tidak ada keinginan yang kuat untuk berhenti dari menghina. Tentunya kita akan menjadi marah dengan orang yang seperti ini. Begitupun juga dengan Allah Ta'ala. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, bantulah kami agar kami Engkau beri kekuatan untuk menghindari dosa yang sama yang pernah kami lakukan. F. Sikap Orang Bertawakkal Apabila dia telah menepati syarat-syarat taubat, maka dia akan berserah diri kepada Allah Ta'ala. Dengan satu keyakinan bahwa Allah Ta'ala akan mengampuni dosanya. Karena dia telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindari dosa dan telah memenuhi syarat taubat. Sehingga didalam hatinya tidak ada rasa putus asa dari pengampunan Allah Ta'ala. G. Sikap Orang Mukhlis Apabila Allah Ta'ala berkehendak membalas dosanya didunia ini, maka hal itu dia terima dengan ikhlas dan sangat bersyukur. Yang penting Allah Ta'ala mengampuninya. Karena setiap dosa pasti terbalas, apakah terbalas didunia atau terbalas diakhirat. Atau apabila Allah Ta'ala mencabut sesuatu yang membuat dia berdosa, sebagai contohnya dia sombong karena memiliki mobil, kemudian mobil itu diambil oleh Allah Ta'ala, maka ha itu dia terima dengan ikhlas. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Ghafur Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia mudah sekali memaafkan kesalahan orang lain walaupun orang tersebut sering kali melakukan kesalahan kepadanya. Ia melihat yang terpenting orang tersebut mau menjadi benar dengan bertaubat secara benar pula. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Ghafur Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk mengingatkan manusia agar mereka tidak berputus asa dari pengampunan-Mu, walaupun mereka melakukan dosa yang berulang-ulang. Agar mereka dapat melihat bahwa sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pengampun walaupun hamba-hambaMu melakukan dosa yang sama berulang-ulang kali.